Mengenal Lebih Dekat Imposter Syndrome

“Pernah ga kamu ngerasa semua pencapaianmu cuma kebetulan, dan kamu ngerasa takut suatu saat orang-orang bakal sadar kalau kamu sebenarnya nggak sepintar itu?”

Perasaan ini sering disebut sebagai Imposter Syndrome. 

 

Yuk kenali lebih dalam!!

Awalnya, fenomena ini diidentifikasi pada perempuan berprestasi tinggi pada tahun 1970-an oleh psikolog Pauline Rose Clance, PhD, dan Suzanne Imes, PhD. Namun, penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa imposter syndrome umum terjadi di berbagai gender, profesi, dan kelompok demografi. 

 

Fenomena imposter syndrome adalah kondisi psikologis dimana individu terus – menerus merasa ragu terhadap kemampuan dan pencapaian mereka sendiri, menganggap keberhasilan yang diraih hanya sebagai kebetulan atau keberuntungan, bukan karena keterampilan atau kecerdasan yang mereka miliki. Perasaan ini membuat mereka takut bahwa suatu saat identitas mereka sebagai “penipu” akan terbongkar.  (Varsha K, et al, 2024)

 

Menurut psikolog UGM, Nandy Agustin Syakarofath, S.Psi., M.A, Psikolog dalam berita yang dimuat di laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM) dijelaskan bahwa fenomena imposter syndrome adalah perasaan meragukan diri sendiri dan ketakutan bahwa keberhasilan yang telah diraih hanyalah sebuah kebetulan. Nandy menjelaskan bahwa imposter syndrome bukanlah sebuah penyakit mental, melainkan sebuah kondisi psikologis yang dapat dialami oleh siapa saja, terlepas dari latar belakang sosial, pendidikan, atau pekerjaan. Kondisi ini tidak diklasifikasikan sebagai gangguan psikologis dalam DSM, meskipun sering kali dikaitkan dengan kecemasan, depresi, dan perasaan tidak layak.

 

Lebih lanjut, Nandy memaparkan bahwa ada beberapa tanda-tanda seseorang mengalami imposter syndrome, di antaranya adalah:

  1. Merasa Tidak Layak: Individu merasa bahwa mereka tidak pantas mendapatkan pujian atau pengakuan atas kerja keras mereka.

  2. Perfeksionis Berlebihan: Mereka selalu menetapkan standar yang sangat tinggi untuk diri sendiri, dan ketika gagal mencapainya, mereka merasa sangat kecewa.

  3. Cenderung Membandingkan Diri: Sering membandingkan diri dengan orang lain dan merasa bahwa orang lain jauh lebih kompeten.

  4. Selalu Merasa Beruntung: Menganggap keberhasilan yang diraih hanya karena faktor keberuntungan, bukan karena kemampuan atau usaha yang sungguh-sungguh.

Apa saja faktor yang memicunya?

Berikut beberapa faktor pemicu munculnya imposter syndrom :

  1. Perfeksionisme: Standar yang terlalu tinggi atau perfeksionisme negatif dapat memicu perasaan tidak layak dan depresi.

  2. Lingkungan Berprestasi Tinggi: imposter syndrome lebih sering ditemukan di lingkungan yang menuntut pencapaian tinggi, seperti bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) atau di pendidikan tinggi.

  3. Perbandingan dengan Orang Lain: Perbandingan dengan rekan kerja atau teman dan adanya evaluasi dari atasan atau pengajar dapat meningkatkan perasaan tidak kompeten.

  4. Dukungan Sosial dan Keluarga: Kurangnya dukungan dari keluarga dan teman, serta kurangnya dorongan dari orang tua, bisa menjadi faktor pemicu.

Dampaknya apa saja?

Dampak yang timbul akibat imposter syndrom : 

  1. Kecemasan Akademik: imposter syndrome memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kecemasan akademik. Orang yang mengalami sindrom ini cenderung memiliki kecemasan berlebihan saat mengerjakan tugas akademik atau menghadapi ujian.

  2. Depresi dan Prokrastinasi: Perasaan ragu terhadap diri sendiri dan takut gagal dapat memicu munculnya gejala depresi dan perilaku menunda-nunda pekerjaan (prokrastinasi).

  3. Menurunkan Kinerja dan Kesejahteraan Diri: Sindrom ini juga dapat berdampak negatif pada kinerja akademik dan perkembangan karier. Selain itu, dapat menurunkan tingkat ketahanan diri (resilience) dan kepuasan kerja pada staf akademik.

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Untuk mengatasi imposter syndrome, Nandy menyarankan beberapa cara, seperti:

  1. Akui dan Rayakan Pencapaianmu: Belajarlah untuk menerima pujian dan menginternalisasi pencapaianmu sebagai hasil dari usaha dan kemampuanmu, bukan keberuntungan.

  2. Berbagi Perasaan: Berbicara dengan orang terdekat yang dapat dipercaya, seperti teman atau keluarga, bisa memberikan dukungan dan meringankan beban.

  3. Fokus pada Proses, Bukan Hasil: Daripada fokus pada standar yang tidak realistis, alihkan perhatian pada proses pembelajaran dan perkembangan diri.

  4. Cari Bantuan Profesional: Jika perasaan ini sangat mengganggu, jangan ragu untuk mencari bantuan dari psikolog atau konselor. Mereka dapat memberikan strategi yang tepat untuk mengelola perasaan ini.

"The only way to stop feeling like an impostor is to stop thinking like an impostor"

Referensi :

Oktaviani, S. D., & Rasyid, M. (2024). Fenomena imposter Syndrome dan Ketangguhan Akademik, Kombinasi Pemicu Munculnya Kecemasan Akademik. Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial, 5(6).

Varsha, K., & Singh, M. (2024). Understanding Imposter Syndrome: A Correlational Analysis Of Achievement Motivation, Parental Bonding, And Perceived Social Support. Educational Administration: Theory and Practice, 30(4), 9074–9080. https://doi.org/10.53555/kuey.v30i4.3028

Yang, X., Yeo, K. J., Lee, S. H., & Handayani, L. (2024). A systematic review of imposter syndrome in higher education. International Journal of Evaluation and Research in Education, 13(6), 3884–3892. https://doi.org/10.11591/ijere.v13i6.30726

Jodi, M. (2022, November 9). Psikolog UGM Paparkan Fakta imposter Syndrome. Universitas Gadjah Mada. https://ugm.ac.id/id/berita/20226-psikolog-ugm-paparkan-fakta-imposter-syndrom/

Brave, E., & Singh, V. (2022, November 9). imposter Syndrome. National Center for Biotechnology Information (NCBI). https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK585058/

Share :

Facebook
Twitter
WhatsApp
On Key

Related Post

Overthinking tentang Kesehatan? Bisa Jadi Cyberchondria

Overthinking tentang Kesehatan? Bisa jadi Chyberchondria Cyberchondria adalah kebiasaan mencari informasi medis di internet secara berlebihan, yang dampaknya justru membuat seseorang merasa sangat ketakutan dan cemas berlebih akan kondisi tubuhnya sendiri (Basory & Daud, 2025). Seseorang rentan mengalami cyberchondria jika

Read More »

Apa itu “Brain Rot”?

Apa Itu “Brain Rot”? Kalian merasa lelah padahal hanya rebahan dan scrolling sosial media? merasa sering marah karena hal – hal kecil? atau merasa sulit memahami suatu hal? Jangan – jangan kalian lagi merasakan gejala dari “Brain Rot”. Yuk, kenali

Read More »

Apa sih Bedanya Sifat Narsis dan NPD?​

Apa sih Bedanya Sifat Narsis dan NPD? “Pernah nggak sih kalian ketemu orang yang suka banget ngomongin diri sendiri, nggak mau disalahin, dan selalu pengen dipuji?” Bisa jadi, mereka bukan cuma “pede berlebihan”… tapi punya ciri-ciri narcissistic personality disorder (NPD)

Read More »

Kenapa Orang Suka Menunda Pekerjaan?

Pernahkah kamu menunda pekerjaan atau yang sering disebut prokrastinasi? Kata prokrastinasi sendiri berasal dari bahasa Latin “crastinuse” yang mendapat awalan “pro”, sehingga memunculkan kata procrastina tion.Awalan “pro” berarti mendorong maju atau bergerak maju, sedangkan “crastinuse” berarti keputusan hari esok. Sehingga

Read More »
Scroll to Top