Pernah gak sih, kamu merasa sulit untuk bilang “tidak”, sampai akhirnya harus mengorbankan waktu, tenaga, bahkan perasaan sendiri hanya karena nggak enak hati untuk menolak permintaan orang lain? Bisa jadi kamu adalah seorang “people pleaser”. Tapi apasih “people pleaser” itu?
Menurut Jannah, dkk (2025), “people pleaser” merupakan sebutan bagi individu yang memiliki kecenderungan berlebihan untuk menyenangkan orang lain, menghindari penolakan, serta cenderung memprioritaskan kebutuhan orang lain dibanding kebutuhan pribadi. Banyak yang tidak menyadari bahwa perilaku ini didorong oleh kebutuhan untuk memperoleh penerimaan sosial, bukan semata-mata karena niat baik. Kondisi ini kerap disalahartikan sebagai wujud empati, padahal dibaliknya terdapat potensi tekanan emosional yang cukup besar (Marthasya, 2025).
Kenapa individu dapat menjadi “people pleaser”?
Psikolog dari Career and Student Development Unit (CSDU) FEB UGM, Anisa Yuliandri, S.Psi.,M.Psi., menjelaskan bahwa terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku people pleaser, seperti:
- Pola asuh “Cinta Bersyarat”, hanya mendapat pujian saat menuruti kemauan orang tua.
- Pengalaman masa lalu, adanya tekanan atau trauma sosial yang membuat seseorang merasa harus selalu menyenangkan orang lain agar aman.
- Rasa takut akan penolakan, adanya ketakutan jika dijauhi dan dipandang negatif oleh orang lain.
- Kurangnya kasih sayang, kurangnya perhatian di masa kecil memicu rasa haus akan pengakuan.
Tanda – tanda “people pleaser”
- Merendahkan diri sendiri.
- Cenderung menyalahkan diri sendiri.
- Tidak memiliki banyak waktu untuk diri sendiri.
- Merasa takut jika orang lain marah.
- Merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain.
- Meminta maaf atas hal yang sebenarnya tak perlu.
- Membutuhkan pujian untuk merasa berharga.
- Tidak mengakui emosi pribadi, baik saat sedih atau marah.
- Rela membantu siapapun tapi sungkan menerima bantuan dari orang lain.
- Cenderung menyetujui pandangan orang lain dan mengesampingkan opini pribadi demi menghindari perdebatan.
Apasih dampak dari “people pleaser”?
Kebiasaan menomorduakan diri sendiri demi orang lain dalam jangka panjang dapat memicu munculnya stres, kelelahan emosional, kecemasan sosial, hingga hilangnya jati diri dan rasa percaya diri.
Cara berhenti menjadi “people pleaser”
- Prioritaskan kebahagiaanmu, ciptakan kebahagiaanmu sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
- Berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu untuk orang lain, apakah hal tersebut merugikan apa tidak.
- Membentuk batasan yang tegas bagi orang lain, agar terbentuk boundaries.
Yuk, mulai sayangi diri sendiri dengan belajar bilang “tidak”.
Referensi:
Andini, V. (2025, December 9). Efek People Pleaser terhadap Kesehatan Mental: Stres hingga Burnout. Best Seller Gramedia. /https://www.gramedia.com/best-seller/efek-people-pleaser-terhadap-kesehatan-mental/
Ini Tanda dan Cara untuk Berhenti Menjadi People Pleaser. (2024, November 11). Alodokter. https://www.alodokter.com/ini-tanda-dan-cara-untuk-berhenti-menjadi-people-pleaser
Kurnia.Ekaptiningrum. (2026, May 3). Dampak People Pleaser terhadap Kesehatan Mental. https://feb.ugm.ac.id/id/berita/17119-dampak-people-pleaser-terhadap-kesehatan-mental
Marthasya, A., Abdullah, M. N. A., & Mujayapura, M. R. R. (2025). Perfeksionisme: Penyebab Mental Gen Z menjadi People Pleasure. SABANA: Jurnal Sosiologi, Antropologi, dan Budaya Nusantara, 4(1), 130-138.
Ningrum, Z. B., Danendra, N. D., Yusel, M. S., & Yunita, M. (2025). Efektivitas Konseling Asertif dalam Mengurangi Tekanan Sosial pada Mahasiswa dengan Pola People Pleasing: Studi Kasus. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(04), 378-387.
Permadani, A. F. (2025). Studi fenomenologi perilaku people pleasing pada mahasiswa di Himpunan Mahasiswa Psikologi Islam Universitas Muhammadiyah Ponorogo (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Ponorogo).
