Overthinking tentang Kesehatan?
Bisa jadi Chyberchondria

Cyberchondria adalah kebiasaan mencari informasi medis di internet secara berlebihan, yang dampaknya justru membuat seseorang merasa sangat ketakutan dan cemas berlebih akan kondisi tubuhnya sendiri (Basory & Daud, 2025). Seseorang rentan mengalami cyberchondria jika ia tidak tahan dengan ketidakpastian kondisi tubuhnya, selalu menuntut penjelasan medis yang mutlak, dan cenderung hanya fokus pada informasi kesehatan yang mengkhawatirkan (Fachrurozi, 2026).

Seseorang yang mengalami cyberchondria umumnya merasakan ketakutan dan kecemasan berlebih terhadap kondisi kesehatan yang sebenarnya belum tentu dialami. Kondisi ini biasanya ditunjukkan melalui beberapa gejala khas, di antaranya:

  1. Memiliki kecenderungan berlebihan untuk mencari informasi kesehatan di internet selama berjam-jam setiap hari hingga mengganggu kegiatan sehari-hari.
  2. Mengalami rasa takut yang berlebihan ketika menemukan kemungkinan diagnosis penyakit tertentu pada dirinya.
  3. Terlalu sering memeriksa kondisi tubuh, seperti memperhatikan detak jantung, hingga menimbulkan reaksi fisik seperti berkeringat atau rasa tidak nyaman.
  4. Cenderung langsung menyimpulkan bahwa dirinya mengalami suatu penyakit meskipun belum ada kepastian.
  5. Menganggap seluruh informasi yang ditemukan di internet sebagai fakta yang sepenuhnya benar tanpa melakukan pengecekan lebih lanjut.

Sampai saat ini, para peneliti belum dapat memastikan secara pasti penyebab utama munculnya cyberchondria. Namun, terdapat beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kondisi tersebut. 

  1. Depresi atau kecemasan

Individu yang sedang mengalami depresi atau kecemasan cenderung lebih rentan mengalami cyberchondria. Perasaan cemas tersebut tidak selalu berkaitan langsung dengan masalah kesehatan, tetapi dapat dipicu oleh berbagai faktor lain seperti persoalan keluarga, hubungan sosial, tugas, maupun tekanan pekerjaan.

  1. Pengalaman pribadi terkait penyakit

Risiko cyberchondria juga dapat meningkat pada individu yang memiliki pengalaman pribadi dengan penyakit tertentu, baik yang pernah dialami sendiri maupun yang terdapat dalam riwayat kesehatan keluarga. Misalnya, seseorang yang memiliki riwayat penyakit turunan dalam keluarga sering kali merasa khawatir penyakit tersebut juga akan dialaminya, sehingga terdorong untuk mencari berbagai informasi mengenai penyakit tersebut melalui internet.

  1. Kemudahan mengakses informasi kesehatan di internet

Banyak orang menganggap bahwa mencari informasi kesehatan di internet lebih praktis dibandingkan berkonsultasi langsung dengan dokter karena dianggap lebih cepat dan efisien dari segi waktu maupun biaya. Namun demikian, tidak semua informasi medis yang tersedia di internet memiliki tingkat keakuratan yang dapat dipercaya. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa sumber informasi yang digunakan berasal dari pihak yang kredibel dan didukung oleh hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Mendiagnosis diri sendiri hanya bermodalkan artikel di internet sering kali membuat kita salah menebak penyakit. Pasalnya, banyak masalah kesehatan yang gejala awalnya memang mirip satu sama lain. Jadi, hindari mengambil kesimpulan sendiri yang malah bikin panik. Jauh lebih baik jika memastikan kondisi asli lewat pemeriksaan medis secara langsung.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi cyberchondria adalah dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin kepada dokter serta menerapkan pola hidup sehat. Pola hidup sehat tersebut meliputi tidur yang cukup, mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, berolahraga secara teratur, serta berusaha mengelola kecemasan terkait kondisi kesehatan.

Selain itu, penting bagi individu untuk menyadari bahwa berkonsultasi langsung dengan tenaga medis lebih bermanfaat dibandingkan hanya mencari informasi melalui internet, yang kebenarannya belum tentu dapat dipastikan. Strategi lain yang dapat membantu mengurangi cyberchondria adalah dengan membatasi kebiasaan mencari informasi kesehatan secara berlebihan di internet. Sesekali, seseorang juga dapat mengambil jeda dari penggunaan internet untuk mengurangi kecemasan yang muncul akibat paparan informasi kesehatan yang berlebihan. Meskipun demikian, mencari informasi kesehatan secara daring sebenarnya tidak dilarang. Namun, informasi yang digunakan sebaiknya berasal dari sumber yang terpercaya, kredibel, serta didukung oleh penelitian ilmiah dan medis.

Jika rasa cemas yang dialami sudah mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari atau bahkan berdampak pada orang lain, maka sebaiknya individu mencari bantuan profesional, seperti psikolog. Dalam banyak kasus, individu dengan cyberchondria yang cukup berat biasanya mendapatkan penanganan melalui terapi perilaku kognitif atau Cognitive Behavioral Therapy (CBT), yang terbukti efektif dalam membantu mangatasi kecemasan yang berlebihan.

Share :

Scroll to Top