Kalian merasa lelah padahal hanya rebahan dan scrolling sosial media? merasa sering marah karena hal – hal kecil? atau merasa sulit memahami suatu hal? Jangan – jangan kalian lagi merasakan gejala dari “Brain Rot”.
Yuk, kenali “Brain Rot” lebih dalam!!
“Brain Rot” bukan diagnosis medis, melainkan istilah untuk otak yang melemah karena berlebihan dalam mengkonsumsi konten online yang ringan dan tidak menantang. Istilah ini bahkan dipilih sebagai Oxford Word of the Year 2024.
Menurut Bayu Suseno, S.Psi., M.Psi.,
Brain Rot mengacu pada penurunan fungsi mental dan kognitif akibat paparan konten digital, khususnya konten pendek seperti reels atau video pendek di media sosial. Kondisi ini terjadi karena otak cenderung ‘lelah’ menerima banyak stimulus dalam waktu singkat, sehingga mempengaruhi kemampuan konsentrasi dan berpikir kritis.
Istilah “Brain Rot” belum diklasifikasikan sebagai gangguan resmi dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), namun fenomena ini berkaitan erat dengan kecanduan teknologi dan gejala psikologis lainnya, seperti penurunan atensi, kesulitan berpikir kritis hingga kesulitan mengontrol emosi.
Mengapa Ini Terjadi?
Penyebab utama “Brain Rot“ adalah konsumsi konten digital yang berlebihan, terutama video pendek yang memberikan stimulasi instan. Algoritma media sosial memicu perulangan konsumsi tanpa henti yang didorong oleh dopamin, membuat otak kecanduan pada kepuasan sesaat dari informasi atau notifikasi baru.
Gejala dan Tanda-tandanya
- Penurunan atensi, terutama kesulitan fokus pada informasi yang lebih panjang atau pada aktivitas yang produktif,
- Sulit mengontrol penggunaan sosial media,
- Merasa cemas saat jauh dari perangkat digital.
Dampak pada Kemampuan Kognitif
Fenomena ini dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis, mengganggu pemahaman informasi secara mendalam, serta melemahkan fokus dan konsentrasi. Anak-anak usia 7-11 tahun yang terlalu sering terpapar media sosial, misalnya, menjadi kesulitan menghafal dan menyusun kalimat, berbanding terbalik dengan teori kognitif Piaget yang menyatakan bahwa anak pada usia 7 – 11 dapat berpikir logis serta mampu menunjukkan kemampuan konservasi dan memecahkan masalah.
Dampak pada Kesehatan Mental
Penggunaan media sosial yang berlebihan dikaitkan dengan penurunan harga diri, gangguan kualitas tidur, kesulitan dalam mengontrol emosi, dan peningkatan risiko gangguan psikologis seperti kecemasan dan depresi. Paparan konten negatif juga dapat menyebabkan stres emosional dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri.
Siapa Saja yang Terdampak?
“Brain Rot” sangat nyata terjadi pada generasi muda, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha. Mereka cenderung melakukan perilaku “doom scrolling” dan terbiasa dengan dunia maya yang berorientasi pada layar.
Solusi dan Pencegahan
- Memilah dan Memilih Informasi: Biasakan untuk memilih konten yang memberikan pemahaman menyeluruh bukan hanya informasi singkat.
- Latih Berpikir Kritis: Biasakan untuk mencari dan analisis informasi dari berbagai sudut pandang
- Batasi Durasi Layar: Mengendalikan waktu di depan layar dan memilih konten digital yang berkualitas.
- Aktivitas Non-Digital: Terlibat dalam kegiatan di luar dunia maya untuk mendukung kesehatan kognitif dan emosional.
“Overloading attention shrinks mental control. Life immersed in digital distractions creates a near constant cognitive overload. And that overload wears out self‑control.”
Daniel Goleman, Focus: The Hidden Driver of Excellence (2013)
Resources :
Aribowo, P., & Bagaskara, M. I. (2025). Dampak penggunaan media sosial” Brain Rot” terhadap kesehatan mental remaja. Jurnal Sosial Teknologi, 5(3), 350-357. https://doi.org/10.59188/jurnalsostech.v5i3.32020
Yousef, A. M. F., Alshamy, A., Tlili, A., & Metwally, A. H. S. (2025). Demystifying the new dilemma of brain rot in the digital era: A review. Brain Sciences, 15(3), 283. https://doi.org/10.3390/brainsci15030283
Putri, R. D. O. F.(2025).Analisis Dampak Brain Rot terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Anak berdasarkan Teori Perkembangan Kognitif Piaget. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 2(4), 1-14. https://edu.pubmedia.id/index.php/pgsd/article/view/1845
Universitas Muhammadiyah Surakarta. (2024, 12 Januari). Dosen Psikologi UMS Waspadai Dampak ‘Brain Rot’ pada Kesehatan Mental di Era Digital. News UMS. https://news.ums.ac.id/id/12/2024/dosen-psikologi-ums-waspadai-dampak-brain-rot-pada-kesehatan-mental-di-era-digital/
Share:
Related Post

Overthinking tentang Kesehatan? Bisa Jadi Cyberchondria
Overthinking tentang Kesehatan? Bisa jadi Chyberchondria Cyberchondria adalah kebiasaan mencari informasi medis di internet secara berlebihan, yang dampaknya justru membuat seseorang merasa sangat ketakutan dan cemas berlebih akan kondisi tubuhnya sendiri (Basory & Daud, 2025). Seseorang rentan mengalami cyberchondria jika

Mengenal Lebih Dekat Imposter Syndrome: Mengapa Merasa Seperti Penipu Padahal Berprestasi?
Mengenal Lebih Dekat Imposter Syndrome “Pernah ga kamu ngerasa semua pencapaianmu cuma kebetulan, dan kamu ngerasa takut suatu saat orang-orang bakal sadar kalau kamu sebenarnya nggak sepintar itu?” Perasaan ini sering disebut sebagai Imposter Syndrome. Yuk kenali lebih dalam!!

Apa itu “Brain Rot”?
Apa Itu “Brain Rot”? Kalian merasa lelah padahal hanya rebahan dan scrolling sosial media? merasa sering marah karena hal – hal kecil? atau merasa sulit memahami suatu hal? Jangan – jangan kalian lagi merasakan gejala dari “Brain Rot”. Yuk, kenali

Apa sih Bedanya Sifat Narsis dan NPD?
Apa sih Bedanya Sifat Narsis dan NPD? “Pernah nggak sih kalian ketemu orang yang suka banget ngomongin diri sendiri, nggak mau disalahin, dan selalu pengen dipuji?” Bisa jadi, mereka bukan cuma “pede berlebihan”… tapi punya ciri-ciri narcissistic personality disorder (NPD)

Kenapa Orang Suka Menunda Pekerjaan?
Pernahkah kamu menunda pekerjaan atau yang sering disebut prokrastinasi? Kata prokrastinasi sendiri berasal dari bahasa Latin “crastinuse” yang mendapat awalan “pro”, sehingga memunculkan kata procrastina tion.Awalan “pro” berarti mendorong maju atau bergerak maju, sedangkan “crastinuse” berarti keputusan hari esok. Sehingga
